Perjalan Panjang Menuju Menara Gading; Muh Erwin Anak Muda Kabupaten Bima Inspirasi Bagi seorang Nabil Fajarudin
Portalmadani.com || Bima — Sejarah manusia selalu menorehkan kisah-kisah luar biasa yang lahir dari tanah sederhana, dari desa-desa yang jauh dari keramaian kota. Salah satu kisah yang saya ambil itu kini tercermin pada perjalanan seorang anak muda dari Desa Boro, Kecamatan Sanggar, bernama Muhammad Erwin. Ia bukan lahir dari keluarga bangsawan, bukan pula tumbuh di tengah limpahan harta. Ia hanya seorang anak desa biasa, yang masa kecilnya diisi dengan kehidupan sederhana dan keterbatasan. Namun dari kesederhanaan itu lahir jiwa yang kuat, mental yang tahan uji, dan tekad yang tidak pernah tunduk pada keadaan.
Ada satu hal yang saya amati dari perspektif teori mobilitas sosial bahwa, perjalanan Muhammad Erwin adalah contoh nyata dari mobilitas vertikal yang bisa saya jadikan motivasi. Ia menapaki tangga sosial dan politik melalui proses panjang yang penuh ujian. Dalam masyarakat, tidak semua orang mampu menembus batas struktur sosial yang kerap mengekang. Banyak yang berhenti di tengah jalan, banyak yang menyerah karena merasa ditentukan oleh nasib. Tetapi bang Muhammad Erwin memilih jalan berbeda. Ia menolak tunduk pada determinisme lingkungan. Ia membuktikan bahwa dengan kerja keras, keberanian, dan konsistensi, seseorang dapat menggeser posisi sosialnya dan membuktikan kapasitas diri di hadapan publik.
Proses yang ia jalani tentu tidak mudah. Politik bukan ruang kosong itulah yang harus kita pahami bahwa ia adalah arena penuh pertarungan, konflik kepentingan, bahkan jebakan-jebakan yang kadang tak terlihat. Namun justru di situlah kematangan seorang pemimpin ditempa. Dalam perjalanan kariernya, ia melewati fase-fase sulit, menghadapi dinamika masyarakat yang kompleks, menahan tekanan, bahkan tidak jarang menghadapi keraguan dari sekitar. Akan tetapi, setiap hambatan ia jadikan bahan bakar untuk terus bergerak maju.
Salah satu pandangan psikologi motivasi, inilah contoh dari keyakinan diri, keyakinan yang berangkat dari diri atau individu seseorang pada kemampuannya sendiri untuk mengatasi rintangan.
Hari ini, buah dari proses panjang itu nyata terlihat. Saya sangat kaget dari sebuah desa kecil bernama yang jauh yaitu desa Boro, ia berhasil duduk di kursi DPRD Kabupaten Bima. Lebih dari itu, ia dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai Wakil Ketua 1 DPRD Kabupaten Bima. Sebuah amanah yang tidak hanya menunjukkan keberhasilan pribadi, tetapi juga mencerminkan harapan rakyat yang ia wakili. Ia kini menjadi simbol bahwa anak muda dari desa pun mampu menembus panggung besar politik daerah, tanpa harus melepaskan akar sosial dan identitasnya.
Pada pandangan perspektif filsafat eksistensialisme kitai bisa maknai bahwa manusia adalah makhluk yang bebas untuk menentukan arah hidupnya. Ia bukan sekadar produk lingkungan, melainkan aktor yang mampu melampaui keterbatasannya. Muh. Erwin adalah bukti nyata dari gagasan ini. Bahwa lahir di desa bukan berarti takdir untuk menjadi penonton lahir dari keluarga sederhana bukan berarti kutukan untuk selamanya berada di bawah. Justru dari desa, lahir pemimpin-pemimpin sejati yang ditempa langsung oleh kerasnya realitas dan pahitnya perjuangan.
Bagi generasi muda, kisah ini seharusnya menjadi bahan renungan dan inspirasi. Bahwa bermimpi besar bukanlah hak eksklusif anak kota, bahwa menjadi pemimpin bukanlah monopoli mereka yang lahir dalam keluarga elit. Siapa pun, dengan konsistensi dan komitmen, bisa menulis sejarahnya sendiri. Kuncinya adalah berani memulai, tahan terhadap proses, dan tidak berhenti ketika menghadapi rintangan.
Muh. Erwin kini duduk di kursi legislatif, bukan semata karena keberuntungan, tetapi karena setiap langkah kecil yang ia tempuh sejak awal dijalani dengan tekad besar. Perjalanan hidupnya menegaskan satu hal sederhana: kemuliaan bukanlah hadiah yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari proses panjang, penuh luka, penuh keringat, namun juga penuh keyakinan.
Dari kursi Wakil Ketua 1 DPRD Kabupaten Bima, ia kini bukan hanya membawa namanya sendiri, tetapi juga nama Desa Boro, Kecamatan Sanggar, serta harapan masyarakat kecil yang selama ini jarang terdengar suaranya. Ia menjadi simbol bahwa demokrasi masih menyisakan ruang bagi mereka yang berjuang dengan tulus, dan menjadi bukti bahwa seorang anak desa pun bisa menjadi bagian dari penentu arah kebijakan daerah.
