Oleh : Nabil Fajaruddin

Jika kau membaca ini, maka waktu telah menepati janjinya bahwa dia akan mengungkapkan tentang kebenaran mempertemukan kita bukan dalam wujud yang sebenarnya, tetapi dalam makna. Jangan tangisi kepergianku sebab aku tidak hilang, aku hanya berpindah ke ruang yang tak lagi terikat oleh detik dan penyesalan.

Di sanalah aku belajar, bahwa cinta sejati tak mati, ia hanya berubah menjadi kesadaran.Aku masih hidup dalam bisikan yang tak terdengar, di sela doa yang kau sebut tanpa nama. Aku bernaung dalam cahaya kecil di dadamu yang tak kunjung padam, meski engkau telah menenggelamkannya dengan kebohongan yang halus, dan pengkhianatan yang kau bungkus dengan senyum.

Aku tak marah. Sebab aku mengerti manusia sering kali memeluk dusta demi merasa dicintai, dan mengkhianati demi merasa hidup. Namun cinta yang sejati tidak membutuhkan kebohongan untuk bertahan. Ia hanya memerlukan keberanian untuk jujur, meski kejujuran itu menyakitkan.

Kau boleh menyembunyikan niatmu di balik tutur yang manis, tapi cinta mengenali kejujuran sebagaimana mata mengenali cahaya. Kau boleh memalingkan wajahmu, tapi hati akan tetap menatap dengan ingatan yang tak bisa dibohongi.

Jika engkau ingin menemuiku, jangan mencariku di batu nisan, atau dalam cerita yang kau ubah agar tampak indah. Carilah aku di dalam kejujuranmu sendiri jika kau masih berani menatapnya. Di sanalah aku menunggu, bukan sebagai cinta yang menuntut, melainkan sebagai kebenaran yang tidak bisa dimatikan.

Cinta sejati tak berakhir oleh dusta, ia hanya menanggalkan bentuk lamanya, dan menjelma menjadi doa yang lebih tenang. Maka bila senja menyentuh wajahmu, jangan takut. Itu aku bukan untuk menagih kesetiaan, tapi untuk mengingatkanmu bahwa pengkhianatan hanyalah jalan bagi cinta untuk kembali kepada kejujuran yang lebih dalam.

Sebab aku telah selesai mencintaimu sebagai manusia, dan kini aku mencintaimu sebagai pelajaran dari waktu. Dan pelajaran itu abadi. Dan waktu, pada akhirnya, bukanlah hakim yang menjatuhkan vonis, melainkan guru yang sabar mengulangi pelajaran hingga kita benar-benar mengerti. Ia mengikis ego sedikit demi sedikit, meruntuhkan bangunan kesombongan yang kita dirikan atas nama cinta.

Dalam keheningan setelah kehilangan, kita dipaksa bercermin tanpa hiasan, melihat bahwa yang paling menyakitkan bukanlah perpisahan, melainkan kesadaran bahwa kita pernah mengkhianati suara hati sendiri.

Maka jika suatu hari kau merasa sunyi tanpa sebab, itu bukan karena aku pergi terlalu jauh, melainkan karena kebenaran mulai berbicara pelan di dalam dirimu. Di situlah cinta menemukan bentuknya yang paling murni bukan sebagai hasrat untuk memiliki, tetapi sebagai keberanian untuk menjadi utuh. Sebab pada akhirnya, cinta bukan tentang siapa yang bertahan di sisi kita, melainkan tentang siapa yang membuat kita berani berdiri jujur di hadapan diri sendiri.

Share and Enjoy !

Shares

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.