Oleh: Nabil Fajaruddin

Daerah Bima tidak sedang baik-baik saja. Dan saya menulis ini bukan sebagai pengamat yang berdiri jauh dari api, tetapi sebagai anak daerah yang ikut merasakan panasnya bara itu. Luka lama di tanah ini seperti tak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya ditutup kain tipis bernama klarifikasi, proses hukum berjalan, atau itu oknum. Tetapi darahnya tetap merembes.

Ketika kasus narkoba menyeret oknum dari Polres Bima Kota, hati saya terasa seperti ditampar. Lembaga yang seharusnya menjadi benteng terakhir moralitas hukum justru terseret dalam pusaran yang merusak generasi. Kita selalu diajarkan untuk percaya pada institusi.

Namun bagaimana cara menjelaskan kepada anak-anak muda bahwa hukum itu suci, jika bayangannya sendiri tampak retak?Belum kering kegelisahan itu, kita dihadapkan pada kabar pilu, seorang balita meninggal dunia karena ambulans terjebak di jalan rusak wilayah Langgudu.

Saya membayangkan detik-detik kepanikan keluarga, suara tangis yang mungkin pecah di dalam mobil medis yang tak bisa melaju. Infrastruktur yang seharusnya menjadi nadi kehidupan berubah menjadi penghalang takdir. Jalan rusak bukan sekadar lubang dan bebatuan, ia adalah simbol dari kelalaian panjang yang diwariskan dari kebijakan ke kebijakan.

Kini, berita viral tentang penetapan tersangka oknum Kabid di Dinas Dikpora Kabupaten Bima kembali menambah daftar kegelisahan publik. Pendidikan yang kita anggap sebagai cahaya masa depan ikut terseret dalam pusaran problematika moral. Jika sektor pendidikan pun tercoreng, lalu kepada siapa lagi kita menitipkan harapan generasi?

Saya lelah melihat Bima hanya ramai ketika ada skandal. Seolah-olah kita dipertemukan bukan oleh prestasi, tetapi oleh ironi. Seolah-olah tragedi telah menjadi rutinitas yang dinormalisasi. Yang lebih menyakitkan bukan hanya peristiwanya, tetapi kebiasaan kita untuk cepat lupa.

Daerah Bima adalah tanah yang melahirkan banyak intelektual, ulama, dan pejuang. Tetapi hari ini, kita lebih sering menyaksikan krisis integritas dibanding krisis sumber daya. Problematika yang tidak bermoral ini bukan sekadar kesalahan individu, ia adalah akumulasi dari sistem yang permisif terhadap kelalaian dan kompromi terhadap etika.

Saya menulis ini dengan perasaan campur aduk, marah, sedih, tetapi juga berharap. Karena seburuk apa pun situasinya, perubahan selalu dimulai dari kesadaran kolektif. Kita tidak bisa terus berlindung di balik kata oknum untuk setiap kegagalan. Kita perlu keberanian untuk membenahi sistem, memperkuat pengawasan, dan yang terpenting menghidupkan kembali rasa malu ketika amanah dikhianati.Daerah Bima bukan sekadar wilayah administratif di peta. Ia adalah rumah. Dan rumah tidak boleh dibiarkan retak tanpa upaya memperbaikinya.

Mungkin tulisan ini hanya sepotong curahan hati. Tetapi jika luka lama ini terus kita abaikan, ia akan menjadi warisan pahit bagi anak-anak kita kelak. Saya tidak ingin Bima dikenang sebagai daerah yang akrab dengan skandal. Saya ingin ia dikenal sebagai daerah yang pernah jatuh, lalu bangkit dengan martabatnya sendiri.

Share and Enjoy !

Shares

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.