Program Selasa Menyapa: Antara Harapan dan Kepalsuan Semata.

Portalmadani.com || Bima — Satu tahun lebih berjalan program Selasa Menyapa dan hadir di setiap desa yang ada di Kabupaten Bima, namun fead back program selasa menyapa masih menjadi tanda tanya !?!
Bupati Bima meluncurkan sebuah program yang di gadang gadang akan membawa harapan bahwa kebijakan tersebut akan menjadi jawaban atas persoalan masyarakat disetiap desa yang ada di Kabupaten Bima. Harapan bahwa pemerintah dengan slogan perubahan benar-benar hadir, bukan sekadar dalam narasi pidato dan publikasi media sosial, tetapi hadir melalui kerja nyata yang menyentuh kebutuhan rakyat.
Program Selasa Menyapa pada awal kemunculannya bisa kita nilai secara bersama akan membawa optimisme besar. Program ini dipromosikan sebagai ruang komunikasi langsung antara pemerintah dan masyarakat. Sebuah konsep yang secara teori sangat ideal, dimana pemerintah turun langsung mendengar keluhan rakyat, mencatat persoalan di lapangan, lalu merumuskan solusi cepat dan terukur.
Secara konseptual, program ini terlihat sebagai bentuk pemerintahan yang responsif dan partisipatif. Masyarakat diberi ruang untuk menyampaikan berbagai keresahan, mulai dari persoalan infrastruktur, pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, hingga persoalan ekonomi masyarakat kecil.
Namun nyatanya setelah berjalan lebih dari satu tahun lebih, realitas justru menampilkan ironi yang cukup menyakitkan. Program yang awalnya diharapkan menjadi jembatan perubahan, kini mulai dipandang sebagai kegiatan seremonial yang kehilangan ruh substansinya.
Pertanyaan besar mulai muncul di benak pikiran saya:
1. Apa sebenarnya hasil konkret dari Selasa Menyapa?
2. Apakah ia benar-benar menyelesaikan masalah, atau hanya menjadi panggung pencitraan yang dibalut narasi kepedulian?
Bisa kita nilai secara bersama bahwa lebih dari satu tahun kepemimpinan dengan slogan perubahan belum sama sekali mampu mempertanggungjawabkan janji perubahannya.
– Selasa Menyapa Antara Dokumentasi dan Realisasi.
Satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah program ini sangat aktif dalam sisi dokumentasi. Setiap kegiatan dipublikasikan, setiap dialog direkam, setiap kunjungan ditampilkan dengan narasi keberpihakan kepada rakyat.
Namun publik tidak hanya membutuhkan dokumentasi, masyarakat membutuhkan realisasi, masyarakat tidak sedang menunggu foto-foto pejabat yang tersenyum bersama warga, mereka menunggu jalan rusak diperbaiki, mereka menunggu air bersih tersedia, mereka menunggu pelayanan kesehatan membaik, mereka menunggu solusi atas persoalan ekonomi yang terus menekan kehidupan sehari-hari.
Namun sayangnya, hingga hari ini banyak persoalan mendasar yang tetap berulang tanpa penyelesaian yang jelas.
– Masalah Infrastruktur yang Tetap Terabaikan.
Salah satu keluhan yang paling sering disampaikan masyarakat dalam berbagai forum adalah persoalan infrastruktur. Jalan-jalan rusak di berbagai titik masih menjadi keluhan klasik yang tak kunjung menemukan penyelesaian permanen. Drainase buruk menyebabkan genangan saat hujan. Fasilitas umum di beberapa wilayah masih jauh dari layak.
Ironisnya, persoalan-persoalan ini berkali-kali disampaikan dalam forum Selasa Menyapa. Aspirasi diterima, dicatat, bahkan dijanjikan akan ditindaklanjuti. Namun hingga kini, sebagian besar masyarakat belum melihat perubahan signifikan.
Jika sebuah masalah terus diulang dalam forum yang sama tanpa penyelesaian, maka patut dipertanyakan efektivitas forum tersebut.
– Pelayanan Publik yang Belum Berbenah.
Program ini seharusnya menjadi momentum evaluasi terhadap pelayanan publik. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat masih mengeluhkan lambannya birokrasi, prosedur pelayanan yang berbelit, minimnya respons terhadap aduan, hingga lemahnya koordinasi antarinstansi.
Masyarakat masih dihadapkan pada realitas birokrasi yang lambat bergerak. Banyak aduan yang diterima, tetapi tindak lanjutnya sering kali tidak memiliki kepastian. Jika pemerintah benar-benar mendengar, maka respons cepat seharusnya menjadi budaya baru.
– Persoalan Ekonomi Masyarakat yang Tak Tersentuh.
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil, masyarakat berharap program seperti Selasa Menyapa mampu menjadi ruang lahirnya solusi ekonomi konkret. Namun hingga kini, dampaknya terhadap penguatan ekonomi rakyat masih sulit dirasakan.
Harga kebutuhan pokok yang terus naik, lapangan kerja yang terbatas, minimnya pemberdayaan UMKM, serta lemahnya intervensi pemerintah terhadap persoalan ekonomi lokal menjadi bukti bahwa program ini belum menjawab kebutuhan mendasar masyarakat.
Mendengar keluhan pedagang kecil tanpa ada kebijakan nyata untuk menopang usaha mereka hanyalah bentuk empati simbolik dan empati simbolik tidak pernah cukup untuk menyelesaikan persoalan hidup rakyat.
– Aspirasi yang Berhenti di Meja Catatan.
Masalah terbesar dari program ini adalah tidak adanya transparansi tindak lanjut. Masyarakat tidak pernah benar-benar tahu: 1. Berapa banyak aduan yang masuk?
2. Berapa yang sudah diselesaikan?
3. Berapa yang masih dalam proses?
4. Apa indikator keberhasilannya?
Tanpa data yang terbuka, Selasa Menyapa hanya menjadi ruang mendengar tanpa kepastian bekerja. Forum ini berisiko menjadi tempat masyarakat berbicara, lalu pulang membawa harapan yang perlahan berubah menjadi kekecewaan.
– Ketika Program Berubah Menjadi Panggung Populisme.
Kritik paling tajam terhadap Selasa Menyapa adalah potensi berubahnya program ini menjadi instrumen populisme. Populisme selalu bekerja dengan cara yang sederhana, tampil dekat dengan rakyat, mendengar keluhan mereka, membangun citra empatik, tetapi sering kali minim solusi sistemik.
Jika setelah satu tahun lebih program ini belum menunjukkan hasil terukur, maka publik wajar menilai bahwa kedekatan yang ditampilkan hanya bersifat kosmetik. Rakyat tidak butuh pemimpin yang sekadar datang, mendengar, lalu pergi.
Rakyat membutuhkan pemimpin yang datang membawa solusi, bekerja secara terukur, dan bertanggung jawab atas setiap janji yang diucapkan.
– Saatnya Evaluasi Menyeluruh.
Momentum satu tahun lebih pelaksanaan seharusnya menjadi titik evaluasi besar. Pemerintah harus berani membuka ruang audit publik terhadap efektivitas program ini. Evaluasi harus menjawab beberapa pertanyaan mendasar:
1. Apa capaian konkret Selasa Menyapa selama ini?
2. Berapa persoalan yang benar-benar terselesaikan?
3. Apa hambatan implementasinya?
4. Mengapa banyak aduan belum mendapat kepastian?
Tanpa evaluasi yang jujur, program ini hanya akan terus berjalan sebagai rutinitas administratif tanpa makna. Harapan Tidak Bisa Dibangun dengan Seremoni.
Pada akhirnya, masyarakat tidak menolak Selasa Menyapa. Yang ditolak adalah jika program ini hanya dijadikan panggung simbolik yang sibuk memproduksi citra, tetapi miskin hasil.
Harapan publik masih ada, namun harapan tidak bisa terus dipelihara dengan narasi manis dan dokumentasi seremonial. Harapan membutuhkan bukti.
Satu tahun lebih adalah waktu yang cukup untuk menunjukkan bahwa sebuah program bekerja. Jika hingga kini perubahan belum juga terasa, maka publik berhak bertanya dengan lantang.
Apakah Selasa Menyapa benar-benar hadir untuk menyelesaikan persoalan rakyat, atau hanya sekadar ilusi kepedulian yang dibungkus dengan sapaan.
